Kamis, 05 September 2013

Strategi Dakwah Para Wali



Dalam kenyataannya, para wali telah merumuskan strategi dakwah atau strategi kebudayaan secara ebih sistematis, terutama bagaimana menghadapi kebudayaan jawa dan nusatara pada umumnya yang sudah sangat kuat,tua, dan sangat mapan. Ternyata para wali memilki metode yang sangat bijak. Mereka mengenalkan Islam tidak serta merta, tidak ada cara instan. karena itu mereka merumuskan strategi jangka panjang. Tidak masalah kalau harus mengenalkan Islam pada anak-anak, sebab mereka merupaka masa depan bangsa. Dalam hal ini  tentu dibutuhkan ketekunan dan kesabaran.

    Dalam strategi dakwah yang digunakan para wali kemudian diterapkan di dunia pesantren para Kyai, atau tuan guru mengajarkan agama dalam berbagai bentuk. Dalam dunia pesantren, diterapkan fiqhul ahkam untuk mengenal dan menerapkan norma-norma keislaman secara ketat dan mendalam, agar mereka menjadi muslim yang taat. Tetapi ketika masuk kedalam ranah masyarakat diterapkan fiqhul dakwah, ajaran agama diterapkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat dan tingkat pendidikan mereka. Dan yang tertinggi  adalah fiqhul hikmah, dimana ajaran Islam bisa diterima oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan awam tetapi juga kalangan bangsawan, termasuk diterima kalanga rohanian, Hindu,Budha, serta kepercayaan yang lainnya.

  Para wali sebagaimana para Nabi, bukan rohaniian yang hanya  tinggal di pedepokan dan asrama saja, tetapi selalu mengembara dari satu daerah kedaerah lain untuk mendalami ilmu sekaligus menyebar luaskan ajaran Islam. Kemampuan para wali menggalang kepercayaan umat melalui perjalanan dakwah yang tak kenal lelah dibarengi apresiasi yang sangat tinggi pada agama lama; Hindu,Budha maupun lainnya dan kematangannya dalam mengelola budaya , membuat ajakan mereka diterima hampir seluruh penduduk Nusantara.

 Starategi para wali dalam mengembangkan ajaran di Nusantara dimulai  dengan beberapa langkah strategis. Pertama; tadrij (bertahap) tidak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahkan, tidak jarang secara  lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya setrategi.
Para wali sadar betul kalau Nusantara yang multi etnis, multi bahasa, multi budaya, adalah anugarah Allah yang tiada tara. Belum lagi kondisi alamnya yang ramah, iklimnya yang trofis, tidak ekstrem. Ditambah dengan keragaman hayati yang sangat kaya dengan sumber mineral. Ini yang mereka pahami, sehingga mereka mensyukuri dengan tidak merusak budaya yang ada atas nama Islam dan sebagainya. Ini sesuai perintah Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah an-Naml (27);40;
    
         "Ini termasuk anugrah Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmatNYa)"

       Tentu saja anugarah agung ini patut disyukuri dengan dilestarikan dan dikembangkan bukan diingkari dengan dibabat dan dihancurkan atas nama kemurnian agama atau atas nama atas nama kemoderenan. Islam hadir justru merawat, memperkaya, memperkuat budaya Nusantara sehingga bisa berdiri sejajar disamping peradaban dunia yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar