Rabu, 25 Juni 2014

Komentar Jokowi Soal Indosat Sarat Kebohongan



Komentar Jokowi dalam debat capres tentang pembelian kembali saham PT.Indosat Tbk (ISAT), dinilai sarat kebohongan.

Pengamat pasar modal, Tito Sulisto pasar modal sangat dikenal dengan highly regulated dan selalu berpegangan pada prinsip my word is my bond, apa lagi menyangkut persoalan beli kembali ISAT yang menurut Jokowi ada klausul.

Tentu ini akan mengundang pertanyaan, karena publik tidak tahu menahu. Tito pun menduga bila klausul itu memang ada, artinya Megawati Sokarnoputri yang ketika penjualan aset negara itu bertindak sebagai presiden RI telah menyembunyikan informasi.

"Kemudian kalau tidak ada, apakah hal imi Jokowi telah melakukan kebohongan publik sekaligus melakukan manipulasi imformasi di pasar modal" katanya, Rabu (25/6/2014).

Tito mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk memanggil Megawati dan Jokowi untuk menjelaskan hal itu lebih terperinci. Tito menilai pernyataan Jokowi untuk membeli ISAT kembali itu blunder.

"Beli saham itu ada aturannya, ngak bisa seenaknya saja. Jika salah langkah bisa mengguncang pasar dan membahayakan prekonomian Indonesia, mengingat banyak BUMN yang listing di bursa" tegasnya.

Dia menuntut Jokowi untuk memberikan penjelasan di otoritas pasar modal mengenai rencananya itu dalam waktu 2x24 jam, karena capres nomer dua itu telah membuat kebingungan dan intervinsi dibursa hingga menjurus kepada insider trading.



okezone.vom

Elektabilitas Naik Karena Prabowo Berjiwa Besar




Pengamat politik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Iswandi Saputra mengatakan elektablitas Prabowo terus  naik tak lepas dari jiwa besar yang ditunjukannya.

Survey tetahir yang dirilis oleh Institut Survey Indonesia (ISI), Prabowo Subianto menang tipis dari Jokowi. Dengan pwrolehan masing-masing elektabilitas Prabowo 51,18%, sedangkan Jokowi 48,82%.



Menurut Iswandi hasil tersebut tak lepas dati sosok Prabowo yang semakin dikenal publik, mampu menunjukan jiwa besarnya. Diantaranya dalam setiap debat pilpres bersama Joko Widodo.

"Dalam beberapa kali debat dengan Jokowi, setidaknya ada tiga kali Prabowo sependapat. Jika itu benar ya dikatakannya benar" kata Iswandi.

Menurutnya, dalam hal ini Prabowo seperti menampar muka lawan politik dan TNI senior diatasnya yang selama ini banyak menyerangnya dengan isu negatif.

Prabowo, menurut Iswandi adalah kesatria yang mengalahkan atasan-atasannya. Dalam berbagai kesempatan seperti debat capres, Prabowo tidak pernah berusaha menjatuhkan lawan politiknya. Padahal Prabowo punya banyak kesempatan untuk itu.


Banyak kesempatan Prabowo umtuk menjatuhkan Jokowi. Seperti debat capres yang ketiga Minggu lalu. Jokowi tidak memahami apa itu pertahanan Nasional,
Dan politik Internasional secara komplit.

"Prabowo ingin memberikan cerminan, kepada siapa saja bahwa kalau menang harus tetap menghargai lawan politik, ini pembelajaran bagi kubu rivalnya juga senior-seniornya di TNI" katanya.

Selasa, 24 Juni 2014

Sebaiknya Jokowi' Mengakat Bendera Putih' Lebih Terhormat



Dari tiga kali debat yang digelar KPU tentang masalah-masalah mendasar mengenai bangsa Indonesia. Dimulai dari masalah pembangunan demokrasi, kesejahtraan, hak asasi manusia, ekonomi, pertahanan keamanan, semua menunjukan kapasitas Jokowi. Rakyat bisa menilai kualitas kepemimpinan sosok Jokowi sebagai calon presiden. Debat capres yang diselenggarakan KPU itu, bisa menjadi indikator terhadap calon presiden layak atau tidak memimpin negri ini.

Presiden atau pemimpin tidak bisa lahir secara instan. Presiden atau pemimpin tidak bisa lahir dari proses rekayasa. Presiden atau pemimpin tidak bisa hanya lahir hanya dari proses pencitraan. Presiden atau pemimpin harus benar-benar lahir dari sebuah ujian. Ujian dari hari kehari, bulan kebulan, tahun ketahun dengan berbagai ujian. Seperti batu berliaan yang digosok, kemudian menjadi berlian. Bukan hasil dari polesan.

Tiga kali debat capres yang digelar KPU, menjadi 'ujian' bagi Jokowi apakah dia seorang calon presiden atau pemimpin yang layak untuk didukung atau tidak? Tiga kali debat capres antara Prabowo dan Jokowi sudah sangat dengan jelas memberikan gambaran kepada rakyat tentang kualitas dan kapasitas Jokowi. Memang Jokowi sudah layak atau belum memimpin bangsa ini.

Jokowi bukan  hanya tidak mampu menyampaikan visi dan misinya dengan bahasa tutur secara baik, Ia juga tidak bisa menguasai  dan memahami subtansi masalah. Sekalipun sudah dibentuk 'tim ahli'  dari berbagai ahli yang mempersiapkan visi -misi, dan materi lainnya. Tetap saja Jokowi tidak mampu mengartikulasikan bahkan terkadang tampak gugup. Meskipun sudah membaca dan melihat catatan. Ternyata tidak cukup hanya dihapal materi yang sudah disiapkan 'tim ahli' .

Ini hanyalah gambaran, kalau Jokowi belum waktunya untuk memimpin bangsa ini. Kualitasnya, kapasitasnya, kemampuanya, pandangannya, ilmu pengetahuannya, dan Jokowi madih sangat lemah dari segi 'lendershipnya' ketika harus berhadapan dengan fihak-fihak yang memiliki kepentingan dengan bangsa Indonesia. Jika Jokowi dipaksakan menjadi  presiden dan pemimpin maka akan menghacurkan dirinya sendiri, dan bangsa Indonesia. Jokowi bukanlah seperti 'Bung Karno' yang sudah jelas terlihat saat debat capres.


Indonesia bangsa yang besar, yang luas daratannya tiga kali Eropa, berpenduduk 250 juta jiwa,ditengah tengah perubahan global, dan era keterbukaan yang sangat berpotensi mengacam eksetensi bangsa Indonesia. Sehingga diperlukan 'seorang tokoh' yang benar-benar mumpuni memimpin bangsa ini.

Pilihan 'mengakat bendera putih' menjadi sangat terhomat dan berharga bagi Jokowi, Mega, para Jendral, dan kolongmerat pendukung Jokowi. Tidak terus memaksakan Jokowi. Karena hanya akan menghancurkan, dan mereka akan kehilangan masa depan,jika rakyat memvonisnya, tanggal 9 Juli nanti.  Wall'ahu alam.



voa-islam.com




Soal Perlindungan TKI, Prabowo Sudah Action Tanpa Banyak Bicara




Wakil ketua tim bidang strategi Prabowo-Hatta, M.Romahurmuziy, mengatakan bahwa banyak pemimpin yang hanya pandai berkata-kata tanpa bukti dalam perkataanya.

Termasuk dalam masalah perlindungan tenaga kerja Indonesia ( TKI), yang kerap mendapat perlakuan kasar majikannya diluar negri.

"Banyak diantara para pemimpin kita yang banyak berkata-kata tapi tak berbuat jelas saat menjabat. Pak Prabowo termasuk sedikit pemimpin yang membantu dalam sunyi, tapi tak banyak bicara" kata pria yang akrap dipanggil Romi ini, kepada okezone, Selasa(24/6/2014).

Sebagai mana diketahui, salah satu aksi Prabowo dalam membantu TKI, yakni mantan Danjen Kopasus itu Wilfrida Soik, yang teracam hukuman mati dengan uangnya sendiri. Tanpa bantuan dari kemenakertrans dan BNP2TKI, selaku intitusi yang paling berwenang mengatasi hal itu.

Dan kedua pimpinan intitusi itu, yakni Muhaimin Iskandar selaku menakertrans dan Jumhur Hidayat yang sempat menjadi ketua BNP2TKI, saat ini sedang menjadi tim sukses Jokowi-JK.

Menanggapi kepihakan mereka kepada lawan politiknya, salah satu tim sukses Prabowo-Hatta,  BM Hidayat, menyatakan justru membuka titik lemah pada pasangan Jokowi-Hatta, ketika bicara TKI.

" Jadi masalah TKI ada dua intitusi, kemenakertrans dan BNP2TKI . Kalau masih banyak masalah dengan TKI, justru masalah ini terjadi disana (Jokowi-JK). Problemnya ada disana, mereka ( Jumhur-Cak Imin) kan sudah menjabat tahunan, tapi persoalan ngak selesai-selesai. Dan mereka ada disana (jokowi-JK)," tandasnya.



okezone.com

Minggu, 22 Juni 2014

Lima Blunder Jokowi Didebat Capres Ketiga




Dalam debat capres ketiga, dengan tema politik internasional dan ketahanan internasional, Jokowi sedikitnya melakukan blunder sebanyak lima kali. Hal ini dikatakan wakil ketua umum partai Gerindra Fadl Zon usai menghadiri debat capres ketiga di Holiday Inn, Jakarta Utara.

Pertama saat ditanya Prabowo tentang laut Cina Selatan, Jokowi menjawab Indonesia tidak punya kepentingan dilaut Cina Selatan itu. "Saya kira Jokowi tak mengerti masalah itu" kata Fadl Zon.
Menurut Tim Sukses Prabowo-Hatta,  Ahmad Mujani, "Jokowi ngak paham laut Cina Selatan karena kita tidak klaim, tapi bersentuhan, pulau Natuna ada disitu".

Sementa politisi PPP Ahmad Yani mengatakan, " Jawaban Jokowi mencerminkan kalau ia tidak memahami kondisi georafi dan politik luar negri Indonesia. Mana ada capres yang letak geografis saja tidak tahu. Saya ngak mau ikut campur ah,negara kita mau dicaplok saya ngak mau ikut campur".

Sementara blunder yang kedua  Jokowi, yang dijelaskan ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud Md, mengenai pertahanan dan ketahan,. Saat itu Jokowi menjawab pertahanan dan ketahanan adalah untuk merekrut TNI.

"Ketahanan itu seperti sumber daya air,alam, sedangkan pertahanan itu urusan TNI," kata Mahfud MD.

Ketiga yaitu, Jokowi melakukan blunder tentang penjualan aset Indosat, oleh Megawati. Jokowi mengatakan penjualan aset Indosat karena krisis 1998. Sedangkan menurut Akbar Tanjung, yang dinilai ada kepentingan bukan krisis, karena penjualan aset Indonesia terjadi pada tahun 2001, sedangkan krisis yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998.

"Jadi sebenarnya ngak relavan krisis alasan utama, karena dibalik itu ada kepentingan kan. Jual beli bukan karena ia bayangkan ada krisis 98-99, peristiwnya (penjualan Indosat) 2001, Megawati tahun 2001," kata Akbar Tanjung.

Kemudian blunder yang keempat, tentang kemerdekaan palestina, bukanlah program seorang capres, tapi amanat konstitusi. Seperti halya yang disampaikan Presiden Partai Kesejahtraan Sosial (PKS),Anis Mata.

"Membantu kemerdekaan Palestina itu adalah tugas konstitusi kita, bagi siapa yang memimpin pemerintahan, jadi itu bukan suatu yang spesifik. Itu sudah ada dalam konstitusi kita" kata Anis Mata.

Blunder yang kelima tentang Alat Utama Sistem Pertahanan (Alusista) TNI, seperti tank Leoprad dan anoa. Menurut Jokowi Leoprad tidak cocok untuk Indonesia.

"Menurut saya Leoprad itu penting. Mengingat luas wilayah Indonesia yang besar dalam menjaga pertahanan. Kan itu sudah dikaji oleh pakar-pakarnya. Vetnam saja pada perang terahir menggunakan Leoprad dari Vetnam. Bukan hanya tank, kita juga perlu jet tempur, helikopter, dan kapal selam" jelas Prabowo dalam debatnya.