Sabtu, 29 Januari 2011

" WAHAI ORANG YANG BERTAUBAT"



Barang siapa menjaga lisannya dari kata-kata yang
sia-sia, Ia akan bisa menjaga jiwanya.


Pertaubataan merupakan awal seorang hamba menjadi pelaku sufi atau zahid. Di zaman khalifah Abu bakar As Shiddiq, Abu Wail Syaqiq bin Salamah pernah mengikuti kaum murtad, tetapi Ia segera bertobat setelah ditawan oleh Khalid bin Walid.
Abu Wail termasuk salah satu gollongan tabi'in, generasi setelah sahabat Nabi Saw.

Orang yang mengamalkan hidub zuhud (tidak mementingkan kehidupan duniawi, dan hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT).
Setelah Allah SWT memberikan hidayah kepada Abu Wail untuk kembali memeluk Islam, lelaki yang lahir pada tahun 1 Hijriyah belajar kepada para sahabat, seperti; Umar bin Khatthab, Ustman bib Affan, Ali bin Abi Thalib, Amr bin Ash, Abu Musa bin Al-Asy'ari,Abu Hurairah, Ummu Salamah, dan terutama Ibnu mas'ud, sehingga Abu wail termasuk dalam jajaran derazat yang salih. Abdulah bin Mas'ud yang lama menjadi gurunya dikota Kufah (Irak) selalu menyebutnya, "Wahai orang yang bertaubat."
Ada satu pendidikan yang sangat membekas di hati Abu Wail. Suatu ketika Ibnu Mas'ud pernah berpapasan dengan Abu Wail, yang kala itu sedang membawa mushaf Al-Qur'an yang berhiaskan emas. Ibnu Mas'ud berkata; " sungguh yang paling baik untuk menghias Al-Qur'an adalah membacanya dengan benar."
Ashim bin Abu Nujud, imam para qari' yang hidup sezaman dengannya memberikan kesaksian' "Aku tidak pernah melihat Abu wail berpaling dalam sahalatnya, begitu juga selain shalat."
Ashim pernah mendengar Abu Wail berdo'a saat sujud. Diantara do'anya;
" Tuhan, ampunilah aku! Tuhan, maafkanlah aku! jika engkau memaafkan aku, panjangkanlah keutamaanku, jika engkau mengazabku, bukan oleh orang yang zhalim padaku."
Kemudian Abu Wail menangis hingga kedengaran sampai keluar masjid.
Ashim kembali memberikan kesaksian," Aku tidak pernah mendengar Abu Wail mencaci manusia atau bahkan binatang."
Az-Zabarqand, ulama yang lain menceritakan, "Suatu ketika aku bersama Abu Wail. Lalu aku mencaci Al-Hajjal bin Yusuf (gubenur Kufah) dan menyebut-nyebut keburukannya.
Abu Wail berkata, " jangan mencacinya. Siapa tau dia berdo'a; Ya Allah ampunilah aku, maka Allah mengampuninya."
Inilah keutamaam yang diberikan Allah untuk menjaga lisan seseorang. Barang siapa menjaga lisannya dari kata yang sia-sia, Ia akan menjaga jiwanya.

Berhati-hati pada pemberian

Abu Wail juga terkenal sangat berhati-hati menerima pemberian dari orang lain. Untuk menjaga hidupnya bersih dengan harta yang halal, Abu Wail selektif menerima pekerjaan dari para pejabat umayah. Karena Al-Hajjaj, sebagai gubenur memerintah dengan kejam dan zhalim, sehingga harta pemerintahannya dianggap penuh subhat.
Abu Wail juga pernah mendapat cobaan bertemu dengan Al-Hajjaj, yang memanggilnya keistana. Sebagai warga negara yang baik Ia memenuhi panggilan itu, meski tetap waspada.
Ketika keduanya bertemu' Al-Hajjaj bertanya; "siapa namamu?"
Abu Wail langsung menjawab; "tidak mungkin seorang amir memanggilku kalau tidak tau siapa namaku."
"Kapan engkau tinggal di negri ini?"
"pada malam-malam penduduknya menetap."
" Apa yang engkau baca dari Al-Qur'an?"
"Aku membaca Al-Qur'an yang kalau kuikuti akan mencukupiku."
"Kami ingin menugasimu sesuatu."
"Pekerjaan apa?"
"Sisilah."
"Sisilah tidak pantas kecuali bagi mereka yang melakukannya (meneladani para pendahulu). kalau engkau minta bantuanku, engkau minta tolong kepada seorang yang lemah. Kalau Amir memafkanku, itulah yang kucintai."

Abu Wail Syaqiq bin Salamah meninggal pada tahun 82 Hijriyah di kota Kufah (Irak).


Jumat, 28 Januari 2011

MENDIDIK ANAK



CARA MENDIDIK ANAK ;


  • Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki.
  • Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi.
  • Jika anak dibesarkan dengan cemohan, Ia belajar rendah diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan penghianaan, Ia belajar menyesali diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri.
  • Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, Ia belajar keadilan.
  • Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

KEYAKINAN-KEYAKINAN YANG HARUS DIMILIKI ANAK;


  1. keyakinan bahwa agama itu adalah satu-satunya pedoman yang mampu membuat manusia mencapai hidup bahagia yang permanen di dunia. Tanpa agama manusia hanya mampu mencapai kebahagian semu.
  2. Keyakinaan bahwa semua perintah agama itu tidak ada yang tidak bermamfaat langsung bagi pelakunya di dunia ini.
  3. keyakinan bahwa Islam itu adalah agama yang terbaik.
  4. keyakinan bahwa Al-Qur'an itu ciptaan tuhan, pedoman hidup yang sangat logis, memuat seluruh aspek pengetahuan agar manusia dapat bahagia di dunia dan masuk surga di ahirat kelak.
  5. keyakinan bahwa satu-satunya kebenaran di dunia ini adalah Al-Qur'an dan satu-satunya suri tauladan hidup hanyalah Rasullulah saw.
  6. keyakinan bahwa Allah tidak akan ingkar janji. Apa pun yang telah dijanjikan-Nya dalam Al-Qur'an tidak mungkin dilanggar-Nya.
  7. keyakinan bahwa penyelesaian suatu masalah/problem harus dengan cara yang di atur Allah dalam Al-Qur'an dan hadits Rasullulah saw.
  8. keyakinan bahwa dalam memahami ajaran Islam harus terpadu, yaitu selalu "membawa" 6236 ayat Al-Qur'an serta contoh-contoh yang ditunjukan oleh Rasullulah saw.
  9. keyakinan bahwa manusia diturunkan dibumi ini hanya sekejab saja yaitu semata-mata untuk di uji ketaatannya dalam melaksanakan "aturan main" Tuhan guna menentukan tempatnya nanti dikehidupan abadi.
  10. keyakinan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau; ahirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan.
  11. keyakinan bahwa manusia terbaik itu adalah yang paling mampu untuk taat pada "aturan main" Tuhan (taqwa).
  12. keyakinan bahwa iman manusia itu tidak stabil (naik turun).
  13. keyakinan bahwa ilmu yang bermampaat itu adalah ilmu yang memudahkan pemiliknya selalu taat kepada Allah.
  14. keyakinan kalau setan itu selalu menghasut manusia, agar membangkang pada "aturan main" Tuhan.
  15. keyakinan bahwa kematiaan itu, hanyalah soal waktu saja.
  16. keyakinan bahwa Tuhan tidak akan membebani kita, diluar kemampun kita.
  17. keyakinan bahwa semua yang telah diberikan Allah kepada kita (termasuk musibah) adalah baik; Allah tidak pernah menganiaya hamba-Nya.
  18. keyakinan bahwa do'a adalah senjata ampuh orang mukmin.
  19. keyakinan kalau semua ibadah harus berniat iklas karena Allah.
  20. keyakinan kalau satu-satunya jalan menuju sorga adalah dengan amal saleh.
  21. keyakinan bahwa tidak ada ilmu yang paling tinggi selain "berserah diri".
  22. keyakinan bahwa dosa akan menghitamkan hati.
  23. keyakinan bahwa karunia Allah untuk manusia yang paling tinggi adalah hikmah.
  24. keyakinan bahwa dosa yang tak terampun adalah syirik.
  25. keyakinan bahwa Tuhan tidak menuntut keberhasilan dari perbuattan kita; tetapi Tuhan hanya menuntut usaha-usaha apa yang telah kita lakukan.
  26. keyakinan bahwa setiap individu mempunyai kewajiababn-kewajiban sendiri-sendiri kepada Tuhan. Kita tidak perlu usil apakah orang itu melaksanakan kewjibannya (kepada Tuhan) dengan atau tidak, tugas kita hanyalah sebatas mengingatkannya saja.
  27. keyakinan bahwa kebenaran yang hakiki itu hanya Allah yang mengetauhuinya. Oleh karena itu sangat tidak bijaksana bila kita fanatik pada satu mazhab tertentu.
  28. keyakinan bahwa masalah fikih sampai kapanpun tidak akan dapat diseragamkan.

Hanya Allah saja yang mampu mengubah
pandangan seseorang. Namun hal ini bukanlah
berarti membebaskan kita untuk memberikan
penjelasan-penjelasan yang menyakinkan!


Siapa mendapat cobaan
(kesulitan,kesusahan, kemiski-
nan, dan sebagainya) dalam meme-
lihara atau merawat anak-anaknya,
tetapi dia tetap berusaha merawat me-
reka sebaik-baiknya, maka semua
cobaan itu menjadi dinding
baginya dari neraka.
[HR. Muslim]

Kamis, 27 Januari 2011

WAKTU UNTUK BERTOBAT


"Siapa yang bertobat sebelum matahari terbit, maka Allah menerima tobat dan memafkannya. Sesungguhnya Allah membentangkan tangan diwaktu malam, supaya bertobat orang yang melanggar pada siang hari, juga Allah mengulurkan tangannya pada siang hari, supaya bertobat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan ini tetap terus hingga matahari terbit dari arah barat" [Hadits riwayat Muslim]



Sebuah gambaran mengenai luasnya ampunan Allah pada orang yang ingin bertobat itu disampaikan oleh Rasullulah Saw dalam bentuk cerita sebagai berikut;


Pada zaman sebelum kalian, ada seorang lelaki yang sudah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian dia bertanya , siapa yang paling alim pada zaman itu. Lantas padanya disebutkan sorang rahib. Dia menemui rahib tersebut dan berkata; aku sudah membunuh sembilan puluh sembilan orang. " Apakah masih ada pintu tobat untukku?" tannyanya .
Rahib itu menjawab; "Tak mungkin" Lalu dibunuh nya juga rahib itu, jadi ia genap membunuh seratus orang. Kemudian dia menanyakan pula orang yang paling alim pada zaman itu. Maka dia pun ditunjukan pada seorang alim. Dikatakannya pada alim itu bahwa dia telah membunuh seratus orang. " Apakah pintu tobat masih terbuka untuknya?" Orang alim itu menjawab; Ya, ada. Siapa pula yang merintangi untukmu untuk bertobat.
Tinggalkanlah negrimu ini, pergilah kenegri yang penduduknya gemar beribadat kepada Allah. Lantas beribadatlah kamu bersama mereka. Jangan kembali lagi kenegrimu ini. Maka pergilah dia mengikuti saran orang alim tersebut. Dalam perjalanan tiba-tiba "maut" menjemputnya.
Malaikat rahmat dan malaikat Adhab berselisih pendapat tentang orang itu.
Malaikat rahmat berkata; Dia datang dalam keadaan tobat dan dengan sepenuh hati ke haribaan Allah.
Malaikat Adhab menyahut; Dia sama sekali belum pernah melakukan amal kebaikan sampai ahir hayatnya.
Kemudian datang seorang malaikat yang menyamar sebagai anak Adam, dan kedua mereka mengakatnya sebagai juru penengah. Dan dia memutuskan; "Ukurlah jarak ia dengan kedua negri itu. Dia akan menjadi pemilik negri dimana ia berada lebih dekat"
Lantas Allah mewahyukan kepada negri maksiat agar menjauh, dan kepada negri tobat untuk mendekat. Mereka mengukur dia dengan kedua negri itu. Dan ternyata dia sejengkal lebih dekat dengan negri tobat. Lantas dia pun diampuni!

Kesimpulan dari cerita diatas;

Ucapkanlah Istigfar dengan perasaan menyesal setiap kali kita gagal dalam menaati kehendak Allah dan Rasullulah (lupa berzikir,bergunjing,berperangsaka buruk, emosi, berbohong, bertindak zalim. iri dengki, dan lain sebagainya).

Demikian pentingnya Istigfar ini, sehinnga Rasullulah saw. bersabda;

"Barang siapa selalu beristigfar, maka
Allah menjadikan baginya kelapangan dari
setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap ke-
sempitan dan memberinya rizki dari
arah yang tidak terkirakan."
[Imam Abu Daud & Ibn Majah ]

Rabu, 26 Januari 2011

KISAH PENDETA YAHUDI YANG MENDAPAT HIDAYAH ALLAH


Pada suatu hari Rasullulah kedatangan seorang badui yang berkata; Hai Rasullulah , kaum di desaku yang telah masuk Islam pernah kukatakan jika mereka masuk Islam pasti akan mendapatkan rezeki yang berlimpah. Kini mereka dalam keadaan kelaparan. Aku takut jika mereka keluar dari Islam, sebagaimana mereka masuk Islam dengan satu tujuan (makanan). Jika engkau bersedia menolong mereka dengan makanan, maka aku bersedia membawanya.
Maka beliau menoleh kepada Ali bin Abi Thalib yang berada disebelahnya dan Ali berkata; Ya Rasullulah, mereka tidak mempunyai makanan sedikit pun. Disaat itu muncul seseorang yang menawarkan kurma seraya berkata kepada beliau;" Hai, Muhamad maukah engkau berhutang kurma, dengan pembayarannya beberapa waktu?" Nabi setuju, dan kurma itu langsung dibawa orang Badui, yang membutuhkan makanan itu. Selang beberapa hari sebelum jatuh tempo pembayaran, orang itu datang kepada Rasul untuk menagih. Sambil menarik keras baju sorban yang beliau pakai, orang itu berkata; " Hai Muhamad, bayarlah hutangmu, demi Allah, aku lihat semua Nabi Abdul Muthalib itu suka menunda pembayaran hutang."
Di saat itu Umar berkata dengan marah: "Hai, seteru Allah, apakah kamu berani berbuat dan memaki Nabi seperti itu? Sungguh jika tidak dilarang aku akan membunuhmu!"
Rasullulah Saw. dengan tenang berkata kepada Umar, Hai Umar, bayarlah hutangku padanya, dan tambahkan 20 gantang kurma sebagai ganti ucapanmu tadi." Maka Umar pun segera melaksanakan perintah Rasullulah itu. Di saat itu orang tersebut berkata, " Hai Umar, tahukah engkau siapakah aku ini sebenarnya?"
Jawab Umar: Aku tidak tau. Maka orang itu berkata," Aku adalah Zaid bin Sa'nah, pendeta Yahudi." Lalu Umar bertanya;" apa sebabnya kamu berbuat sedemikian kasar kepada Rasullulah" Pendeta Yahudi itu menjawab, " Hai Umar, ketika aku melihat wajah beliau, aku lihat tanda kenabian diwajah beliau, kecuali dua perkara saja yang belum aku buktikan, yaitu kesabaran dan ketingian budi beliau. Setelah aku buktikan kedua hal tersebut, maka saksikan oleh mu hai Umar, bahwa aku masuk Islam dan saksikan juga bahwa separuh hartaku akan aku sedekahkan kepada kaum Muslimin."
Menurut catatan sejarah, sejak saat itu Zaid bin Sa'nah ikut Rasullulah dalam berbagai macam peperangan dan Ia gugur sebagai syuhada dalam perang Tabuk.

Selasa, 25 Januari 2011

BUAH MAJA

Sejak zaman dulu nenek moyang kita mengenal buah Maja, yaitu buah yang mengilhami Raden Wijaya menamakan kerajaanya dengan nama Majapahit.
Buah Maja bentuknya sangat menarik, hampir-hampir menyerupai buah semangka. Bagi orang-orang yang sedang dahaga, buah Maja ini terlihat sangat menantang. Tetapi ketika orang mencoba memakannya, maka ia akan kecewa, karena buah Maja ini rasanya pahit bukan kepalang!

Di zaman modern seperti sekarang ini, buah Maja sudah berubah bentuk, walaupun tetap menantang; yaitu kemewahan.
Para ahli hikmah hikmah yang mampu melihat jauh kedalam, sepakat menyimpulkan bahwa kemewahan hidup akan menggiring manusia kedalam kepahitan, yaitu terpuruk kedalam jurang kehancuran. fakta pun menunjukan, gaya hidup yang penuh kemewahan akan membuat orang menjadi lalai akan tujuan kehadirannya di dunia; berpikiran pendek, tidak mempunyai idealisme yang luhur, serta jauh dari cita-cita mulia.

Ibnu Khaldun pernah mengatakan bahwa kehidupan mewah akan merusak manusia. Ia menanamkan pada diri manusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan prilaku hidup buruk lainnya. Nilai-nilai agung akan hilang dari dirinya, dan berganti dengan nilai-nilai bejat yang merupakan sinyal kehancuran menuju kepunahan.

Banyak orang yang mengejar kemewahan mengambil jalan pintas; mengabaikan nilai-nilai ahlak atau rambu-rambu moral. Bukankah adanya penipuan, perampokan, penyalah gunaan kekuasaan(korupsi), bermuara dari keinginan untuk hidup mewah?

Para bijak mengatakan, kemudahan rezeki yang diperoleh, hendaknya tidak membuat kita lupa diri terperosok dalam gaya hidup bermewah-mewah yang jauh dari kesederhanaan. Dunia memang indah, namun harus disadari ahirat jauh lebih manis dan kekal abadi.
Rasululah mengingatkan bahayanya hidup bermewahan dengan sabdanya yang terkenal;

" Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan diantara kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya kemewahan dan keindahan dunia ini padamu" [HR.Bukhari & Muslim]

Orang yang berperilaku hidup mewah, sudah terbukti cendrung membangkang pada perintah-perintah Tuhan. Kecendrungan ini boleh jadi sudah merupakan sunatullah, sebagai mana yang di isyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya sebagai berikut ini;

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam dalam negeri itu....
[ Al-Isra(17):16]


"Merasa puas terhadap apa yang diperoleh,
membuat orang fakir seolah kaya-raya;

Sedangkan serakah,
dapat membuat arang kaya seolah-olah fakir!"

KEUTAMAAN AZAN

Telah bersabda Nabi Muhamad saw; Tiga kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat, menghuni tempat yang harum semerbak karena wewangian misk hitam, tiada hisab yang menakutkan mereka, tiada kecemasan apapun yang menyentuh mereka, sampai manusia lainnya selesai dari urusannya masing-masing;
  1. Seorang yang membaca Al-Qur'an semata-mata demi keridhaan Allah (Azza wa jalla) dan mengimani suatu kaum yang semua mereka senang kepadanya.
  2. Seorang yang mengumandangkan azan di masjid dan berdo,a kepada Allah, semata-mata demi keridhaan-Nya.
  3. Seorang yang beroleh cobaan dengan rizki duniawi yang banyak, namun hal itu tidak melalaikanya dari amalan-amalan untuk aherat. [Hadist Tirmizi dari Ibnu Umar]
"Tiada mahluk apa pun, manusia, jin, atau lainnya, yang mendengar seruan muazin, kecuali Ia pasti akan menjadi saksi bagi si muazin pada hari kiamat" [Bukhari dan Nasa-i]

" Tangan Allah maha pengasih selalu diatas kepala seorang muazin sampai ia selesai dari azannya" [Tabrani dalam Al-Aushath]

Ada sebagian Ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimasud dengan firman Allah;

"Siapakah yang lebih baik perkataannya, daripada orang yang menyeru kepada Allah. mengerjakan amal saleh dan berkata dengan sesungguhnya; 'Aku termasuk orang yang menyerah diri' mereka itu adalah para muazin." [Ibnu Syaibah dalam Al-Mushannaf]

Telah berkata Said bin Musyyab; " Barang siapa shalat ditempat yang sepi, Malaikat akan berdiri bershalat disamping kanannya dan disamping kirinya. Jika ia (sebelum shalat itu) menyerukan azan dan iqamat, akan bershalatlah dibelakangnya malaikat yang amat sangat banyak jumlahnya"

Minggu, 23 Januari 2011

MARI BERSYUKUR SETIAP WAKTU

Pernahkah Anda berpikir berapa kekayaan setiap orang jika di hargai dengan uang?Berapakah harga tubuh manusia jika diuangkan? Berapa harga hidung, telinga, mulut, dan apa saja yang menjadi bagian tubuh manusia jika diuangkan?
Saat mata kita sehat, kita tidak pernah berpikir betapa berharganya mata kita. Coba saja jika suatu saat mata Anda buta, kebetulan Anda memiliki tabungan miliyaran rupiah, apa yang Anda lakukan? Anda pasti akan membayar berapa miliyarpun agar penglihatan Anda kembali seperti semula. Tak peduli kalau waktu itu tabungan Anda akan terkuras habis

Sudah banyak bukti, kalau orang-orang yang berpunya sanggup mengorbankan hartanya sebanyak apapun demi mengembalikan kesehatannya; demi sembuh dari penyakit jantung, lever, kangker, kelumpuhan, kecacattan, dll.
Jika sudah demikian, semestinya kita sadar, betapa kayanya setiap diri kita; harta jika secara meteri kita bukan orang berpunya. Bukankah kita akan tetap mempertahankan mata, hidung, atau bagian tubuh yang lain, meski ada orang lain yang ingin membelinya dengan harga yang sangat mahal. Kitapun tidak akan mau menyewakan nafas kita barang lima atau sepuluh menit, meskipun harga sewanya miliyaran rupiah? sebab kita sangat paham tidak bernafas lima sampai sepuluh menit dapat beresiko kita dapat mati lemas.
Belum lagi jika kita berusaha meneliti udara yang kita hirup saat bernafas. Pikirkan pula air yang kita gunakan untuk minum,mandi,mencuci, dll. Renungkan pula bumi yang kita pijak, sinar matahari yang selalu menyinari dipagi hari, sinar rembulan yang selalu menghiasi ketika malam, pemandangan alam yang indah, laut yang luas, sungai yang mengalir, air hujan yang turun membasahi bumi,dll. Bagaimana jika semua itu harus kita beli? Berapa rupiah yang harus kita kita keluarkan untuk membelinya?

Namun Alhamdulilah, semua kekayaan dan kemewahan itu Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma, tak sepersen pun kita dipungut Allah SWT, untuk membayar nikmat yang luar biasa itu.
Amat pantaslah jika Allah SWT dalam Al-Qurran surah Arrahman mengajukan berkali-kali pertanyaan kepada manusia; Fa bi ayyi ala'i Rabbikuma tukadziban (nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan)? Lebih dari itu, Dialah tuhan yang mengurus kita siang-malam tanpa pernah meminta upah secuil pun. Maha besar Allah yang berfirman (yang artinya); Katakanlah ," siapakah yang dapat memelihara kalian pada waktu malam dan siang hari selain Zat yang Maha Pemurah? [QS Al-Anbiya(21):42]

Pertanyaanya; sudahkah atas semua itu kita bersyukur? ataukah kita malah sering berlaku sombong dan takabur? Sudah berapa miliyar kali Hamdalah kita ucapkan untuk-Nya? Ataukah kita sering berhianat kepada-Nya? Na'audzubilah.

Semoga kita semua menjadi hamba Allah SWT yang selalu bersukur disetiap waktu atas segala karunia-Nya yang luar biasa itu, bukan hamba yang takabur apa lagi kufur kepada-Nya. Paling tidak, hal itu dibuktikan dengan keseriusan dan ketekunan kita dalam beribadah dan bertaqarrub kepada-Nya; dalam menaati segala titah-Nya; mengorbankan apa saja untuk agama-Nya; serta berjuang menegakkan akidah dan syariah-Nya demi kemuliaan Islam dan umatnya. Amin.