Minggu, 13 Oktober 2013
Meraih Mamfaat Dengan Menyingkap Tradisi Yang Baik
Rasululah s.a.w pernah bersabda" seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin yang lain". Sungguh Rasululah s.a.w dianugrahi seluruh perkataan yang bermakna. Setiap kalimat dari perkataannya memiliki maknan yang berlimpah laksana cucuran air hujan yang jatuh dari langit. Sementara setiap orang memiliki nuansa yang berbeda dalam memahami perkataan beliau, sesuai dengan daya pemahaman serta cahaya yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Adapun makna pertama dari sabda beliau yang bebunyi "seseorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin yang lain" adalah disaat seorang Mukmin melihat saudaranya bertingkah laku dengan akhlak mulia, secara otomatis Ia harus menirunya. Sebaliknya, disaat Ia melihat Saudaranya memiliki perangai tidak terpuji, maka Ia harus menyadari bahwa didalam dirinya juga ada perangai semacam itu, karenanya Ia harus menjauhi.
Makna Kedua dari sabda beliau ketika seorang Mukmin melihat saudaranya memiliki suatu aib, ataupun cela, maka mestinya Ia segera meminta saudaranya itu untuk menghilangkan cela/aib tersebut. Sehingga benar-benar laksana cermin, yaitu benda yang memantulkan kenyataan yang Ia tangkap.
Makna ketiga dari sabda beliau yaitu ketika seorang Mukmin melihat kaum Mukmin yang lain, maka akan terjadi pertukaran total berdasarkan keluhuran atau keburukan kepribaddiannya Kalau kepribadiannya bagus,bersih, jujur, jauh dari akhlak tercela, maka pandangan yang dilayangkan kepada kaum Mukminin juga bernilai baik sangka, sehingga Ia tidak pernah menyakiti mereka. Jadi Ia selalu menebarkan kebaikan bagi semua, begitu pula perkataannya benar semua. Sebab Ia berkeyakinan bahwa seluruh kaum Mukmin juga mempunyai budi perketi seperti yang dimiliki. Inilah fadhilah (keutamaan/kelebihan) yang di anugarahkan Allah SWT kepada kaum Mukminin.
Para pujanggapun bersajak;
Kalau jelek kelakuan seseorang jelek pula sangkaanya,
semua yang ia ragukan diangap musuh
Ia memusuhi kawan dengan perkataanya
dalam keraguan laksana gelap gulita
Makna keempat dari sabda beliau orang mukmin yang imannya sempurna sejatinya adalah cermin, tempat penampakan gambar seorang Mukmin atau Allah SWT. Karena diantara nama nama Allah SWT adalah al-Mu'min. Sementara hati orang Mukmin adalah tempat pengetahuan tentang Allah SWT. Dalam hadist disebutkan; hati adalah rumah Tuhan. Masudnya adalah tempat pengatuhuan tentang Allah.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan sebagaimana permohonan hamba-Mu yang sekaligus utusan-Mu, Muhamad saw. dan kami berlindung dari sesuatu sebagaimana hamba-Mu yang sekaligus juga utusan-Mu , Muhamad saw. berlindung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Selasa, 08 Oktober 2013
Syaikh Siti Jenar
Makam Syaikh Siti Jenar di Semanding, Tuban
Cungkup Makam Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging) Murid Syaikh Siti Jenar
Makam Syaikh Siti Jenar di Cirebon
Gerbang Massjid Panjunan, peninggalan Pangeran Panjunan murid syaikh Siti Jenar
Mihrab Masjid Cipta Rasa Cirebon, Menurut Histrograpfi Cirebon, disini tempat Syaikh Siti Jenar diadili
Sekilas Tentang Syaikh Siti Jenar
Syaikh Siti Jenar adalah putra Datuk Sholeh, seorang ulama asal Malaka. Syaikh Siti Jenar dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang memiliki pandangan kontraversial dizamannya. Syaikh Siti Jenar dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep manunggaling kawulo Gusti. Syaikh Siti Jenar diketahui sebagai penggagas gagasan komunitas baru dengan mengubah konsep feodalistik kawulo (hamba, budak) menjadi egaliter melalui pembukaan hunian-hunian baru yang disebut Lembah Abang. Kemunculan komunitas Lembah Abaang yang di nisbatkan kepada Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lembah Abang kemudian berkembang menjadi Varian Abangan.
Berbeda dengan makam Wali Songo yang jelas letak bangunannya beserta kisah-kisahnya. Makam Syaikh Siti Jenar secara tepat belum dipastikan dimana keberadaannya. Sebagian masyarakat menganggap makam Syaikh Siti Jenar terletak di kompleks pemakaman Kemlaten di kota Cirebon. Sebagian lagi menganggap makamnya berada di bukit Amparan Jati tak jauh dari makam Syaikh Datuk Kahfi. Penduduk Jepara menyakini bahwa makam Syaikh Siti Jenar terletak di desa Lemah Abang Jepara. Sedangkan menurut penduduk Mantingan dan Tuban, makamnya terletak di daerah mereka. Sementara menurut penganut Tarekat Akmaliyah, yaitu tarekat yang dibangakan kepada Syaikh Siti Jenar, makamnya dinyatakan hilang karena sesuai wasiat yang bersangkutan kepada para pengikutnya, kuburnya kelak jangan diberi tanda supaya tidak menjadi tempat penziarahan.
Asal-usul dan Nasab Syaikh Siti Jenar
Bernama Syaikh Datuk Abdul Jalil yang masyhur dikenal dengan nama Syaikh Lemah Abang,Syaikh Jabarantas,Syaikh Sitibirit, Pangeran Kajenar, atau yang termasur Syaikh Siti Jenar.
Menurut babad Demak dan babad tanah Djawi, asal usuk Syaikh Siti Jenar adalah seekor cacing yang berubah menjadi manusia setelah mendengar wejangan rahasia Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga. Mengutip tulisan tangan milik Raden Ngabehi Soeradipoera Syaikh Siti Jenar sejatinya adalah Syaikh Abdul Jalil putra Sunan Gunung Jati. Menurut naskah Wangsakertan Cirebon, tokoh yang bernama Syaikh Lemah Abang ini lahir di Malaka dengan nama Abdul Jalil, Ia putra Syaikh Datuk Shaleh. Naskah Wangsakertan yang lain menyebutkan bahwa sisilah Syaikh Lemah Abang yang bernama pribadi Syaikh Datuk Abdul Jalil itu berujung pada Nabi Muhamad Saw. turun melalui Fatimah dan Ali bin Abi Thalib,turun ke Husen, terus ke Ali Zaenal Abidin, turun ke Zakfar Shadiq, hingga ke Maulana Abdul Malik yang tinggal di Bharata Nagari.
Dakwah Syaikh Siti Jenar
Menurut naskah Nagara Kretabhuni, dakwah Syaikh Siti Jenar sangat cepat berkembang diikuti banyak murid-murid yang berkedudukan tinggi telah membuat Sultan Demak (Trenggana) marah. Terutama karena Syaikh Lemah Abang telah mendukung muridnya Ki Kebo Kenongo, mendirikan kerajaan Pengging. Sultan Demak marah, dan memerintahkan Sunan Kudus untuk membinasakan Pengging. Perlawanan Pengging dapat dilumpuhkan dan Ki Kebo Kenongo dibunuh Sunan Kudus,sementara itu Syaikh Lemah Abang berhasil lolos dan kembali ke Cirebon Girang.
imi
Akibat ajaran Syaikh Siti Jenar yang dianggap menyimpang, maka dijatuhi hukuman mati oleh dewan Wali Songo. Dalam babad Tjirebon Syaikh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Kudus. Sementara menurut serat siti Djenar(1922), diungkapkan Syaikh Lemah Abang dihukum mati bukan karena ajarannya yang menyimpang, tetapi karena kesalahannya mengajarkan ajaran rahasia kepada masyarakat umum secara terbuka.
Para Wali tak menemukan kesalahan dalam ajaran Sasahidan yang diajarkan Syaikh Lemah Abang. Dasar ajaran tersebut berkaitan dengan ajaran tasawuf al-Hallaj dan Ibnu Araby, yaitu ajaran yang didasarkan pada keyakinan bahwa didalam diri manusia sebagai ciptaan(haqq). Ajaran ini didasarkan pada dalil yang menyatakan bahwa Allah telah meniupkan (nafakhtu) sebagai ruh-Nya(ruh),kedalam diri manusia pertama (Adam) yang dicipta dari tanah ( Qs,Shad,38;72).
Ruh Ilahi di dalam diri Adam itulah dalam Taswawuf,yang diajarkan Syaikh Lemah Abang disebut sebagai Ruh-al-Haqq, yang menjadi penyebab seluruh malaikat bersujud kepada Adam. Dalam hadis Qudsy disebutkan bahwa Allah Swt berfirman; "aku tidak mungkin berada di langit dan bumi-Ku, tetapi Aku bisa berada di dalam qalbu hamba-Ku yang beriman".
Cungkup Makam Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging) Murid Syaikh Siti Jenar
Makam Syaikh Siti Jenar di Cirebon
Gerbang Massjid Panjunan, peninggalan Pangeran Panjunan murid syaikh Siti Jenar
Mihrab Masjid Cipta Rasa Cirebon, Menurut Histrograpfi Cirebon, disini tempat Syaikh Siti Jenar diadili
Sekilas Tentang Syaikh Siti Jenar
Syaikh Siti Jenar adalah putra Datuk Sholeh, seorang ulama asal Malaka. Syaikh Siti Jenar dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang memiliki pandangan kontraversial dizamannya. Syaikh Siti Jenar dikenal sebagai penyebar ajaran Sasahidan yang berpijak pada konsep manunggaling kawulo Gusti. Syaikh Siti Jenar diketahui sebagai penggagas gagasan komunitas baru dengan mengubah konsep feodalistik kawulo (hamba, budak) menjadi egaliter melalui pembukaan hunian-hunian baru yang disebut Lembah Abang. Kemunculan komunitas Lembah Abaang yang di nisbatkan kepada Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lembah Abang kemudian berkembang menjadi Varian Abangan.
Berbeda dengan makam Wali Songo yang jelas letak bangunannya beserta kisah-kisahnya. Makam Syaikh Siti Jenar secara tepat belum dipastikan dimana keberadaannya. Sebagian masyarakat menganggap makam Syaikh Siti Jenar terletak di kompleks pemakaman Kemlaten di kota Cirebon. Sebagian lagi menganggap makamnya berada di bukit Amparan Jati tak jauh dari makam Syaikh Datuk Kahfi. Penduduk Jepara menyakini bahwa makam Syaikh Siti Jenar terletak di desa Lemah Abang Jepara. Sedangkan menurut penduduk Mantingan dan Tuban, makamnya terletak di daerah mereka. Sementara menurut penganut Tarekat Akmaliyah, yaitu tarekat yang dibangakan kepada Syaikh Siti Jenar, makamnya dinyatakan hilang karena sesuai wasiat yang bersangkutan kepada para pengikutnya, kuburnya kelak jangan diberi tanda supaya tidak menjadi tempat penziarahan.
Asal-usul dan Nasab Syaikh Siti Jenar
Bernama Syaikh Datuk Abdul Jalil yang masyhur dikenal dengan nama Syaikh Lemah Abang,Syaikh Jabarantas,Syaikh Sitibirit, Pangeran Kajenar, atau yang termasur Syaikh Siti Jenar.
Menurut babad Demak dan babad tanah Djawi, asal usuk Syaikh Siti Jenar adalah seekor cacing yang berubah menjadi manusia setelah mendengar wejangan rahasia Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga. Mengutip tulisan tangan milik Raden Ngabehi Soeradipoera Syaikh Siti Jenar sejatinya adalah Syaikh Abdul Jalil putra Sunan Gunung Jati. Menurut naskah Wangsakertan Cirebon, tokoh yang bernama Syaikh Lemah Abang ini lahir di Malaka dengan nama Abdul Jalil, Ia putra Syaikh Datuk Shaleh. Naskah Wangsakertan yang lain menyebutkan bahwa sisilah Syaikh Lemah Abang yang bernama pribadi Syaikh Datuk Abdul Jalil itu berujung pada Nabi Muhamad Saw. turun melalui Fatimah dan Ali bin Abi Thalib,turun ke Husen, terus ke Ali Zaenal Abidin, turun ke Zakfar Shadiq, hingga ke Maulana Abdul Malik yang tinggal di Bharata Nagari.
Dakwah Syaikh Siti Jenar
Menurut naskah Nagara Kretabhuni, dakwah Syaikh Siti Jenar sangat cepat berkembang diikuti banyak murid-murid yang berkedudukan tinggi telah membuat Sultan Demak (Trenggana) marah. Terutama karena Syaikh Lemah Abang telah mendukung muridnya Ki Kebo Kenongo, mendirikan kerajaan Pengging. Sultan Demak marah, dan memerintahkan Sunan Kudus untuk membinasakan Pengging. Perlawanan Pengging dapat dilumpuhkan dan Ki Kebo Kenongo dibunuh Sunan Kudus,sementara itu Syaikh Lemah Abang berhasil lolos dan kembali ke Cirebon Girang.
imi
Akibat ajaran Syaikh Siti Jenar yang dianggap menyimpang, maka dijatuhi hukuman mati oleh dewan Wali Songo. Dalam babad Tjirebon Syaikh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati oleh Sunan Kudus. Sementara menurut serat siti Djenar(1922), diungkapkan Syaikh Lemah Abang dihukum mati bukan karena ajarannya yang menyimpang, tetapi karena kesalahannya mengajarkan ajaran rahasia kepada masyarakat umum secara terbuka.
Para Wali tak menemukan kesalahan dalam ajaran Sasahidan yang diajarkan Syaikh Lemah Abang. Dasar ajaran tersebut berkaitan dengan ajaran tasawuf al-Hallaj dan Ibnu Araby, yaitu ajaran yang didasarkan pada keyakinan bahwa didalam diri manusia sebagai ciptaan(haqq). Ajaran ini didasarkan pada dalil yang menyatakan bahwa Allah telah meniupkan (nafakhtu) sebagai ruh-Nya(ruh),kedalam diri manusia pertama (Adam) yang dicipta dari tanah ( Qs,Shad,38;72).
Ruh Ilahi di dalam diri Adam itulah dalam Taswawuf,yang diajarkan Syaikh Lemah Abang disebut sebagai Ruh-al-Haqq, yang menjadi penyebab seluruh malaikat bersujud kepada Adam. Dalam hadis Qudsy disebutkan bahwa Allah Swt berfirman; "aku tidak mungkin berada di langit dan bumi-Ku, tetapi Aku bisa berada di dalam qalbu hamba-Ku yang beriman".
Sunan Kalijaga
Sunan kalijaga adalah putra Tumenggung Wilatika Bupati Tuban. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh wali songo yang mengembangkan dakwah Islam melalui seni dan budaya. Sunan Kalijaga termasyhur sebagai juru dakwah yang tidak saja piawai mendalang, melainkan juga dikenal pula sebagai pencipta bentuk-bentuk wayang dan lakon-lakon caragan yang dimasuki ajaran Islam. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga mengajarkan tasawuf kepada masyarakat. Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh keramat oleh masyarakat dan dianggap sebagai wali pelindung Jawa.
Makam Sunan Kalijaga terletak ditengah kompleks pemakaman desa Kadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga masih didalam Kota Demak, kira-kira berjarak sekitar 3Km dari Masjid Agung Demak. Seperti makam Wali Songgo umumnya, makam Sunan Kalijaga berada didalam bangunan cungkup berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir.
Asal-usul dan Nasab Sunan Kalijaga
Raden Sahid yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga adalah putra Tumenggung wilatika Bupati Tuban. Selain Raden Sahid , Sunan Kalijaga dikenal dengan sejumlah nama lain, yaitu; Syaikh Malaya,Lokajaya, Raden Abdurahman, Pangeran Tuban, dan Ki Dalang Sida Brangti. Nama- tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah perjalanan hidup tokoh Wali Songo ini sejak bernama Sahid, Lokajaya, hingga Sunan Kalijaga.
Menurud Babad Tuban, sisilah Sunan Kalijaga dikemukakan sebagai berikut;
Diantara wali Songo Sunan Kalijaga dikenal sebagai Wali yang paling luas cangkupan dakwahnya dan paling besar pengaruhnya dikalangan masyarakatnya. Sebab selain berdakwah dengan cara berkeliling dari satu tempat ketempat lain, sebagai dalang, pengubah tembang, tukang dongeng keliling,penari topeng, perancang pakaian,perancang alat-alat pertanian, penasihat Sultan dan pelindung rohani kepala-kepala daerah, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai guru rohani yang mengajarkan tarekat Syathariyah dari Sunan Bonang, sekaligus tarekat Akmaliyah dari Syaikh Siti Jenar, yang saat ini masih diamalkan oleh para pengikutnya diberbagai tempat di nusantara.
Sunan Kalijaga mengalami beberapa perubahan masa kepemimpinan, sejak jaman Majapahit ahir,Demak, Pajang, hingga masa awal Mataram. Sunan Kalijaga dianggap sebagai pelindung kerajaan Mataram. Putra Sunan Kaliajaga yang bernama Sunan Adi, menjadi penasihat rohani penguasa Mataram awal Panembahan Senopati. Dewasa ini, didaerah pedalaman Jawa, keberadaan Sunan Kalijaga menjadi kiblat panutan dari masyarakat muslim tradisional yang memuliakan tidak saja makamnya, melainkan juga warisan nilai-nilai seni budaya dan ajaran rohani(tarekat) yang ditinggalkannya.
Makam Sunan Kalijaga terletak ditengah kompleks pemakaman desa Kadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga masih didalam Kota Demak, kira-kira berjarak sekitar 3Km dari Masjid Agung Demak. Seperti makam Wali Songgo umumnya, makam Sunan Kalijaga berada didalam bangunan cungkup berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir.
Asal-usul dan Nasab Sunan Kalijaga
Raden Sahid yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga adalah putra Tumenggung wilatika Bupati Tuban. Selain Raden Sahid , Sunan Kalijaga dikenal dengan sejumlah nama lain, yaitu; Syaikh Malaya,Lokajaya, Raden Abdurahman, Pangeran Tuban, dan Ki Dalang Sida Brangti. Nama- tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah perjalanan hidup tokoh Wali Songo ini sejak bernama Sahid, Lokajaya, hingga Sunan Kalijaga.
Menurud Babad Tuban, sisilah Sunan Kalijaga dikemukakan sebagai berikut;
Abdul Muthalib berputra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdulah, berputra Kharmia, berputra Mubarak, berputra Abdulah, berputra Madhhra'uf, berputra Arifin, berputra Hasanudin, berputra Jamal, berputra Akhmad, berputra Abdulah, berputra Abbas, berputra Kourames, berputra Abdurrahim (Aria Teja, Bupati Tuban), berputra Teja Laku( Bupati Majapahit), berputra Lembu Kusuma (Bupati Tuban), Berputra Temenggung Wilatika (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunan Kalijaga).
Menurut Babad Tuban bahwa Aria Teja I (Abdurahman) adalah orang Arab, yang memiliki sisilah hingga Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhamad .
KISAH awal tokoh yang kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga ini dimulai dengan kisah mudanya yang diliputi kenakalan, yang samapai diusir oleh orangtuannya yang malu dengan kelakuan putranya. Namun dengan diusir bukan membuat menjadi baik, malah semakin nakal dengan menjadi perampok yang membuat kerusuhan di hutan Jatisari, dan membuat semua orang ketakutan. Raden Sahid dikenal dengan sebutan Lokajaya. Gelar Loka Jaya sendiri berarti penguasa wilayah, karena Loka berarti tempat/wilayah, dan Jaya berati menang/menguwasai. Namun atas dakwah Sunan Bonang, yang saat dirampok Lokajaya mampu menunjukan kesaktiannya mengubah buah aren menjadi emas, Raden Sahid bertobat dan berusaha keras menjadi agung yang mulia, yang bahkan ahirnya menjadi salah seorang anggota Wali Songo.
Gerakan Dakwah Sunan Kalijaga
Babad Demak, menuturkan bahwa Raden Sahid mengawali dakwah di Cerebon, tepatnya di desa Kalijaga, untuk mengislamkan penduduk Indramayu dan Pamanutukan. Sunan Kalijaga tinggal beberapa tahun di desa Kalijaga dengan mula-mula menyamar sebagai sebagai pembersih Masjid Sang Cipta Rasa. Dimasjid itulah Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Gunung Jati yang kemudian menikahkannya dengan adiknya yang bernama Siti Zaenab. Dari pernikahan dengan Siti Zaenab Sunan Kalijaga memiliki satu putra yang bernama Watiswari, dan seorang putri yang bernama Ratu Champaka.
Dalam menjalankan dakwah Sunan Kalijaga dikenal suka menyamar dan bertindak menampilkan kelemahan diri untuk menyembunyikan kelebihan yang dimilikinya. Seperti wali-wali yang lain dalam berdakwah Sunan Kalijaga sering mengenalkan Islam kepada penduduk lewat pertunjukan wayang yang sangat digemari masyarakat yang masih menganut kepercayaan agama lama. Dengan kemampuanya yang menajubkan sebagai dalang yang ahli memainkan wayang, Sunan Kalijaga yang berdakwah di Jawa bagian barat dikenal penduduk dengan beberapa nama samaran. Didaerah Pajajaran Sunan Kalijaga dikenal dengan nama Ki Dalang Sida Brangti, di daerah Tegal dikenal dengan nama Ki Dalang Bengkok, di dareah Pubalingga dikenal dengan nama Ki Dalang Kumendung, sedangkan di Majapahit dikenal dengan Ki Unehan.
Diantara wali Songo Sunan Kalijaga dikenal sebagai Wali yang paling luas cangkupan dakwahnya dan paling besar pengaruhnya dikalangan masyarakatnya. Sebab selain berdakwah dengan cara berkeliling dari satu tempat ketempat lain, sebagai dalang, pengubah tembang, tukang dongeng keliling,penari topeng, perancang pakaian,perancang alat-alat pertanian, penasihat Sultan dan pelindung rohani kepala-kepala daerah, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai guru rohani yang mengajarkan tarekat Syathariyah dari Sunan Bonang, sekaligus tarekat Akmaliyah dari Syaikh Siti Jenar, yang saat ini masih diamalkan oleh para pengikutnya diberbagai tempat di nusantara.
Sunan Kalijaga mengalami beberapa perubahan masa kepemimpinan, sejak jaman Majapahit ahir,Demak, Pajang, hingga masa awal Mataram. Sunan Kalijaga dianggap sebagai pelindung kerajaan Mataram. Putra Sunan Kaliajaga yang bernama Sunan Adi, menjadi penasihat rohani penguasa Mataram awal Panembahan Senopati. Dewasa ini, didaerah pedalaman Jawa, keberadaan Sunan Kalijaga menjadi kiblat panutan dari masyarakat muslim tradisional yang memuliakan tidak saja makamnya, melainkan juga warisan nilai-nilai seni budaya dan ajaran rohani(tarekat) yang ditinggalkannya.
Kamis, 26 September 2013
Kehidupan Sosial - Religi Masa Ahir Majapahit
Kehidupan Sosial-religi di Majapahit pada perempat awal abad ke 15, menunjukan sebuah perubahan yang mendasar sebagai akibat kemunduran Majapahit dan berkembangnya pengaruh islam. Seorang muslim Cina yang mengikuti perjalanan ketujuh Cheng Ho ke Jawa yang berlangsung antara 1431-1433M, menuturkan bahwa di Jawa ketika itu terdapat tiga golongan penduduk. Golongan pertama adalah golongan penduduk Islam dari barat, yang telah menjadi penduduk setempat. Pakaian dan makanan mereka bersih dan pantas. Golongan kedua adalah orang-orang Cina yang lari dari negrinya dan menetap di Jawa. Pakaian dan makanan mereka baik, dan banyak diantara mereka yang masuk Islam dan mereka taat melaksanakan ibadah agamanya. Sedangkan yang ketiga adalah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tidak berpakaian. Rambut mereka tidak disisir,kaki telanjang,dan mereka memuja roh. Catatan panjang perjalanan Cheng Ho ke Nusantara menunjukan betapa gambaran masyarakat pribumi samapai 1431M, tak banyak berbeda dengan gambar-gambar relief-relief candi yang dibangun pada dewasa itu; penduduk laki dan perempuan belum mengenal penutup dada. Catatan Ma Huan dalam kunjungan ketujuh Ceng Ho itu juga menunjukan, betapa sampai saat itu penduduk pribumi Majapahit pada waktu itu belum memeluk agama Islam. Penduduk pribumi masih memuja roh. Dan keadaan penduduk yang hampir tidak berpakaian, kaki telanjang, rambut tidak disisir itulah gambaran penduduk dari kalangan kawula yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan penduduk keraton. Dikalangan penduduk Asia Tenggara , model masyarakatnya memang bersipat hidraulik; komonitas secara tipikal dibagi menjadi dua yaitu lingkungan keraton dan lingkungan Petani. Kalangan keraton menguasai perekonomian kalangan petani, dan dari aspek politis maupun agama, kedua kelompok itu terpisah satu sama lain. Itu sebabnya, kalangan petani yang disaksikan pada muhibah ketujuh Cheng Ho itu menunjukan kehidupan sosial dan keagamaan yang sebenarnya dari penduduk Jawa kalangan bawah. Sekalipun kalangan kraton menganut agama Hindu, kalangan petani nyaris lebih mengenal ajaran kapitayan yang tercemin dalam pada terjadinya pemujaan terhadap batu,tugu, cungkup (punden) pelindung desanya dari pada pemujaan dewa-dewa Budha- Hindu. Sejak pecah perang parereg, keberadaan Majapahit memang berangsur- angsur makin mundur. Aramada Majapahit yang pernah berjaya, telah lumpuh dan tidak mampu lagi digerakan kewilayah wilayah jauh diluar pulau Jawa. Sementara itu kemelut perebutan kekuasaan terus berlanjut tampa kendali hingga wilayah Majapahit bersepihan menjadi kadipaten-kadipaten kecil . Bahkan Palembang wilayah Majapahit di Sumatra selatan, sempat jatuh ketangan petualang dan bajak laut Liang Tau Ming, selama bertahun-tahun dan dilanjutkan oleh Chen Tsui,Shi Chin Ching, dan Shi Chi Sun. Ditengah kemerosotan kehidupan sosial itu, terjadi juga kemorosotan kehidupan religius masyarakat di Majapahit. Falsafah Lingga-Yoni sebagai hasil sinkkretitasi Syiwa-Budha yang terpengaruh ajaran Yoga-Tantra dari sekte Sakhta dan Bhairawa- Tantra yang sudah merosot, berkembang luas dikawasan pedalaman maupun pesisir. Salah satu upacara Yoga-Yoni yang lazim dilakukan adalah masyarakat dewasa waktu itu adalah apa yang disebut upacara Pancamakara atau Ma-lima yang meliputi Mamsha(daging), Mastya(ikan),Madya (minuman keras), Maihuna (bersetubuh), dan Mudra (bersemedi). Mereka yang melakukan upacara Ma-lima,membentuk lingkaran yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang. Ditengah-tengah lingkaran itu disajikan makanan dari lauk pauk daging dan ikan, dan minuman keras. Setelah makan dan minum-minuman keras hingga mabuk, para peserta Ma-lima bersetebuh ramai-ramai. Setelah nafsu perut dan syahwat terpuaskan, mereka kemudian melakukan semadhi.
Gambar Lingga Yoni
Masjid Agung Demak
Rabu, 25 September 2013
Awal Kemunduran Majapahit
Awal Kemunduran Majapahit mulai tampak ketika Prabu Wirakmawarddhana terlibat perselisihan bersenjata dengan sudara iparnya Bhre Wirabhumi dalam perang suksesi memperebutkan tahta Majapahit yang berlangsung antara tahun 1401 sampai 1405 M . Perang itu disebut paregreg, bermakna perang yang berlangsung tarik ulur dan selang waktu dan bentuk pertempuran yang tersendat- sendat. Perang ini sangat menguras kekuatan Majapahit. Dua tahun sebelum perang itu, kekutan Majapahit juga terkuras akibat pemberontakan paraweswara di Palembang, yang berakibat Palembang jatuh ketangan kawanan bajak laut Cina. Dalam perang paregreg itu, Bhre Wirabbhumi tertangkap dan kepalanya dipenggal oleh Bhere Narapati. Kepala Bhre Wirabbhumi dibawa ke Majapahit, kemudian kepalanya dicandikan di Lung, candi makamnya disebut Grisapura. Dalam pertempuran sengit tersebut tidak kurang 170 orang prajurit utusan Kaisar Cina yang dibawa Laksamana Cheng Ho yang sedang berada di Blambangan ikut terbunuh karena salah paham. Wirakmawarddhana kemudian mengirimkan utusan untuk meminta maap kepada kaisar Cina. Kaisar Cina menyesali kejadian itu, dan meminta ganti rugi sebanyak 60.000 tail emas, tetapi ganti rugi itu hanya dibayarkan sebanyak 100000 tail emas oleh Wirakmawarddhana, dan sisanya dibebaskan oleh Kaisar. Setelah perang paregreg selesai, ternyata Majapahit masih dihadang sejumlah pemberontakan, terutama ketika Wirakmawarddhana mangkat dan digantikan putrinya Rani Suhita. Dibawah Rani Suhita, selain terjadi pemberontakan diberbagai daerah, kekuatan Majapahit semakin dilemahkan oleh terjadinya penyingkiran tokoh-tokoh unggul yang berjasa kepada kerajaan. Sebagai mana umumnya sebuah kekuasaan yang sudah tua, pada ahir masa senjanya, tahta Majapahit yang sudah suram itu dilingkari intrik-intrik dalam perebutan kekuasaan dan jabatan yang yang menyulut komplik internal dan bermuara pada pelemahan kekuasaan. Lewat berbagai intrik para tokoh yang setia, kuat, jujur dalam lingkaran kekuasaan satu persatu tersingkir. Seperti jabatan Mahapatih Majapahit yang dipegang oleh Tuan Kanaka sejak 1332 saka/1410 M dan mendadak diganti pada 1352 saka atau 1430 M, dan diberikan kepada orang yang tak memiliki kemampuan apa-apa kecuali menjilat dan menyenangkan atasan. Tuan Kanaka diberhentikan sebagai Patih tampa ada alasan yang jelas. Ratu Anggabhaya Bhre Narapati, tokoh yang berjasa dalam penumpasan pemberotakan Bhere Wirabhumi, tiba-tiba dijatuhi hukuman mati pada1355 saka atau 1430 M, tak lama setelah Patih Mangkubumi Tuan Kanaka di pensiunkan. Arya Damar adik Rani Suhita,pahlawan yang berhasil menumpas pemberontakan Pasunggiri, Bali, Bhre Dah, disingkirkan jauh dari Ibu Kota. Kekuasaan Rani Suhita berahir sampai wafatnya tahun 1447 M. Karena tak mempunyai putra, Ia digantikan adik laki-lakinya Dyah Kartawijaya, yang naik tahta Majapahit dengan nama; Sri Prabu Kertawijya Wijaya Parakmawarddhana. Sri Prabu Kertawijaya adalah Maharaja Majapahit pertama yang menaruh perhatin besar pada perkembangan agama Islam. Hal ini terjadi, karena selain Ia memiliki kerabat, kawan-kawan, pembantu-pembanya yang bergama Islam, juga kedua istrinya yang berasal dari Champa dan Cina juga beragama Islam. Prabu Kertawijya atau disebut juga Brawijaya V memiliki sejumlah putra yang beragama Islam, seperti Arya Damar Adipati Palembang, Raden Arak-Kali Bathara Katwang Adipati Pamedegan, Arya Menak Koncar Adipati Lumajang, Raden Patah Adipati Demak, Raden Bondan Kejawen Kyai Ageng Tarub II, Raden Dhandun Wangsaprana gelar sekh Belabelu. Selain sebagian Istrinya yang beragama islam, sejumlah kebijakan yang ditetapkan Sri Prabu Kertawijaya, tampak sekali memberi peluang bagi orang-orang yang bergama Islam, untuk memegang jabatan di Majapahit. Arya Teja yang beragama Islam diangkat menjadi Adipati Tuban. Aria lembu Sura yang beragama muslim diangkat menjadi Prabu di Surabaya. Kemenakan jauh istrinya yang bernama Sayid Es, telah diangkat sebagai anak dan dianugrahi gelar Syaihk Suta Maharaja dan kemudian diangkat menjadi Adipati Kendal. Kemenakan istrinya yang lain yaitu Ali Rahmatulah diangkat sebagai Imam di Surabaya dan kemudian dijadikan Bupati di Surabaya. Kakak Ali Rahmatulah yang bernama Ali Murtatdho asal negri Champa, diangkat menjadi imam di masjid Gresik dengan gelar Raja Pandhita, sementara itu kemenakan Istrinya yang bernama Burereh( Abu Hurairah) diangkat sebagai lebai di Wirasabha. Sri Prabu Kertawijaya mangkat pada1373 saka/1451 M. Setelah beliau mangkat Majapahit dengan cepat jatuh dalam perebutan kekuasaan yang berlarut-larut. Beliau digantikan Dyah Wijayakumara Bhre Pamotan yang naik tahta pada 1373saka/ 1451 M, dengan gelar Sri Rajasawarddhana, dinobatkan di Keling-Kahuripan yang terletah di Daha-Kediri, menunjukan ketidak beresan mengingat Dyah Wijayakusuma hanya berkedudukan sebagai menantu Sri Prabu Kertawijaya. Tidak sampai dua tahun berkuasa Dyah Wijayakusuma hilang ingatan. Dan ketika beliau naik perahu ditengah segara, Ia melompat dan mati tenggelam.Ia meninggalkan empat orang putra, dan seorang putri, yaitu; Bhere Khuripan, Bhere Mataram, Bhre Pamotan, Bhere Kretatabhumi, dan parameswari Lasem. Kekuasan sempat kosong tampa raja selama tiga tahun. Keadaan ini berahir pada tahun saka1378/1456 M. Ketika Bhere Wengker naik tahta dengan gelar Hyang Purwwaisesa. Bhre wengker ini adalah putra prabu Kertawijaya. Hyang Purwwaisesa selama memerintah meneruskan kebijakan ayahhandanya yang memberikan kedudukan-kedudukan penting kepadaagama kerabat-kerabat yang bergama Islam. Kekuasanya berjalan selama sepuluh tahun. Ia wapat pada tahun saka 1388/1466 M. Ia digantikan putranya Bhre Pandansalas Dyah Suraprabhama yang saat itu menjadi Bhattare di Tumapel, yang naik tahta dengan gelar Singhawikramawarddhana,yang dalam prasasti Trowulan III disebutkan memiliki permasuri Bhre Singhapura Dyah Sripura Rajasawaddhanadewi. Sang Prabu Singhawikramawardhana, hanya berkuasa selama dua tahun. Sebab kebijakannya yang juga memberi kedudukan kepada kerabat-kerabatnaya yang bergama Islam, membuat Ia sangat dibenci oleh kerabatnya sendiri. Pada tahun saka1390/1468 M terjadi pemberontakan yang dipimpin Bhre Kertabhumi. Dalam pemberontakan itu Sang Raja pergi meninggalkan keraton. Sri Prabu lari dari ibu kota Majapahit dan berkuasa di Daha sampai mangkatnya pada tahun saka 1396/1474 M. Setelah beliau mangkat Bhere Kertabuhumi, mengakat dirinya sebagai Maharaja Majapahit satu-satunya. Tetapi keputusan Bhere Kertabhumi banyak yang menentang, terutama para Adipati pesisir Muslim. Saat itu di Majapahit terdapat dua orang raja, yang pertama Bhere Kertabhumi yang berkuasa di Wilwatika, yang kedua Dyah Ranawijaya putra Sri Prabu Suraprabhawa Singhawikramawarddhana, yang menggunakan gelar Abhiseka Girindrawardhana., Bhre Kertabhumi hanya berkuasa selama kurang dari empat tahun, setelah Dyah Ranawijaya membawa pasukan besar ke Majpahit merebut kembali kekeuasannya dari tangan Bhre Kertabhumi yang masih terhitung pamannya. Bhre Kertabbhmi terbunuh dikedaton pada tahun saka 1400. Dyah Ranawijaya berhasil mempersatukan kembali Majapahit yang terpecah-pecah . Walaupun demikian keadaan Majapahit yang sudah sangat rapuh dari dalam disertai timbulnya perkembangan-perkembangan baru di daerah pesisir utara Jawa dan Asia Tenggara umumya, menyebabkan Majapahit tidak dapat dipertahankan lebih lama lagi, lambat laun sampai waktu kehancurannya.
..
Museum Trowulan Jawa Timur
.. Arca Wisnu
Sumur model kono di museum Trowulan
Senin, 23 September 2013
Sekilas Tentang Raden Patah
Raden Patah adalah putra prabu briwajaya, Raja Majapahit terahir. Raden Patah dikisahkan berguru dengan Sunan Ampel di Surabaya dan kemudian dinikahkan dengan putri sang guru yang bernama Dewi Murtosiomah. Sebagai penguasa,negarawan,seniman,ahli hukum dan ilmu kemasyarakatan, dan juga ulama. Raden Patah berperan penting dalam mengembangkan kesenian wayang agar sesuai dengan ajaran Islam. Raden Patah yang saat berkuasa menggunakan gelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, dianggap sebagai pendiri kesultanan Demak. Makamnya terletak dibelakang Masjid Agung Demak, berbentuk kijing sederhana dari bahan pualam kuning dibagian luar cungkup makam Sultan Trenggana, untuk mengagantikan batu andesit yang lama, justru menghilangkan kesan kekonoan makam pendiri Kesultanan Demak Tersebut. Disebelah Makam Raden Patah terletak Makam Istrinya, Makam Adipati Unus, Makam pangeran Sekar Seda Lapen, Pangeran Mekah, Pangeran Ketib, dan Raden Kusen.
Pendidikan dan pengembangan keilmuan
Pendidikan awal yang diperoleh Raden Patah dipastikan berasal dari ibunya, yang tentunya menanamkan dasar kaidah-kaidah ajaran Islam. Selain itu Raden Patah juga belajar ilmu agama dan pemerintahan kepada Arya Damar. Pada saat dewasa , sewaktu kebutuhan Ilmu keIslaman makin banyak, Raden Patah merasakan ketidak puasan mendapat pelajaran agama dari Arya Damar yang masih mengikuti nilai-nilai ajaran agama lama.
Dalam pengembaraan mencari ilmu Raden Patah dan Raden Kusen dikisahkan sampai dipinggir laut dan berjumpa dengan pelaut Cina yang membawa mereka berdua ke Jawa dengan kapalnya. Setelah tiba dijawa mereka berdua dihadapkan dengan Sunan Ampel guna menyampaikan keinginannya untuk belajar agama Islam. Raden Patah dan Pangeran Kusen ahirnya diterima sebagai murid oleh Sunan Ampel. Bahkan Raden Patah kemudian dinikahkan dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murtosimah, dan RadenKusen dinikahkan denagan cucu Sunan Ampel yang bernama Nyai Wilis. Demikianlah, kabar putra dan cucu Raja Majapahit itu tersiar sampai ke Ibu kota dan dikabarkan kepada Raja Majapahit.
Menerima laporan itu sang Prabu mengundang Raden Kusen, cucunya ke Istana. Dihadapan Raja Raden Kusen menyatakan keinginannya untuk mengabdi kepada Raja yang tiada lain adalah kakeknya. Prabu Brawijaya berkenan dengan cucunya itu. Keinginan Raden Kusen untuk mengabdi diterima dengan suka cita. Lalu Prabu Brawijaya mengakat Raden Kusen menjadi seorang Adipati , sang pancatandha di negri Terung.
Setelah Raden Kusen menjadi Adipati di Terung, Sunan Ampel memerintahkan Raden Patah untuk membuka pedukuhan baru, dan menyebarkan Agama Islam kepada masyarakat disekitar pedukuhan baru tersebut.Raden Patah pergi ke Demak dan mendirikan pedukuhan disana. Dalam waktu singkat Raden Patah sudah bisa membangun Demak menjadi besar. Kemudian Raden Patah diundang ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya. Raden Patah pun menghadap ke Majapahit menghaturkan bakti setia kepada Prabu Brawijya yang juga orang tuanya. Raden Patah kemudian diangkat menjadi Adipati di Bintara.
Dakwah Raden Patah
Dakwah Islam di Nusantara tidak terlepas dari keberadaan Wali Songo. Mereka adalah guru-guru Sufi yang dikenang sebagai perintis awal dakwah, yang menyisakan jejak-jejak sufisme pada Islam Nusantara, terutama dijawa. Raden Patah , pendiri kerajaan Demak memang tidak termasuk dalam Wali Songo, namun kedudukannya sebagai salah satu dari jamaah Wali yang ikut berperan dalam gerakan dakwah Islam, tidak dapat diabaikan.
Dalam pengembangan seni budaya terutama seni pewayangan yang merupakan puncak kesenian, karena merupakan gabungan dari seni lukis,seni pahat, seni bentuk, seni drama, seni suara, satra, dikembangkan secara besar-besaran pada saat Raden Patah berkuasa. Raden Patah sangat senang dengan kesenian wayang yang juga sangat digemari oleh penduduknya. Namun Raden Patah sebagai penguasa, negarawan, seniman, ahli hukum, ahli ilmu kemasyarakatan, dan juga ulama yang memiliki kemampuan membaca fonomena sosial kemudian mereflesikannya sebagai kebijakan dalam membangun masyarakatnya, membutuhkan pertimbangan yang matang untuk mengembangkan kesenian wayang agar sesuai dengan ajaran Islam. Demikianlah, setelah meminta pertimbangan kepada beberapa anggota Wali Songo, diperoleh pendapat sebagai berikut;
- Seni wayang perlu dan dapat diteruskan, asal diadakan perubahan-perubahan yang sesuai dengan zaman yang sedang berlaku;
- Kesenian wayang dapat dijadikan media dakwah yang baik;
- Bentuk wayang diubah, bagaimana dan dibuat dari apa, terserah asal tidak lagi berwujud seperti arca-arca yang mirip dengan manusia;
- Cerita-cerita dewa harus diubah dan diisi paham yang mengandung jiwa Islam untuk membuang kemusyrikan;
- Cerita wayang harus diisi dakwah agama yang mengandung keimanan, ibadah, ahlak, kesusilaan,dan sopan-santun;
- Cerita-cerita wayang terpisah menurut karangan walmiki dan wiyasa harus diubah lagi menjadi dua cerita yang bersambung dan mengandung jiwa Islam;
- Menerima tokoh-tokoh cerita wayang dan kejadian-kejadian hanya sebagai lambang yang perlu diberi tafsiran tertentu yang sesuai dengan perkembangan sejarah, dimana tafsiran-tafsiran tersebut harus sesuai dengan ajaran Islam;
- Pegelaran wayang harus mengikuti aturan- aturan susila dan jauh dari maksiat;
- Memberikan warna yang sesuai dengan dakwah Islam pada seluruh unsur seni wayang, termasuk gamelan,tembang-tembang, tokoh-tokoh, dan lakon-lakon.
Sabtu, 21 September 2013
Butuh Kesabaran Dalam Bisnis
Sebagai pelaku bisnis seringkali kita dihadapkan dalam situasi untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, tapi kita juga harus sabar dalam mengambil keputusan, karena kesabaran salah satu faktor penting juga untuk memenangkan persaingan dalam bisnis. Ada beberapa jenis kesabaran yang harus kita miliki untuk menjadi yang terbaik;
Kesabaran dalam negosiasi; Kita harus sabar dalam proses negosiasi, kita tidak perlu terburu- buru dalam menerima atau menolak satu tawaran negosiasi. Pertimbangkan semua faktor penting dengan hati-hati. Mengambil keputusan dengan cepat akan membuat kita diremehkan oleh lawan negosiasi. Tetap sabar dan tenang, karena ini juga akan memberi tekanan pada lawan negosiasi.
Kesabaran dalam menghadapi masalah; Dalam bisnis kita pasti akan dihadapkan dengan masalah. Seberat apapun masalah yang dihadapi tetaplah sabar dan bersipat tenang. Karena dalam kondisi tenang kita akan melihat jalan keluarnya.
Kesabaran dalam menghadapi rekan kerja; Terkadang kita mengalami friksi dengan rekan kerja kita. Dalam hal ini bersabar adalah jalan terbaik. Karena tugas kita bersama untuk membantu perusuhaan dan bersama- sama untuk maju. Karena kita tampa rekan kerja kita juga tidak akan bisa maju juga.
Kesabaran dalam menghadapi hukum dan pemerintahan; Sebagai pemula kadang kita dihadapkan dengan proses hukum dan pemerintahan, terutama saat mengurus ijin dan perpajakan. Karena tidak tau prosedur yang benar dalam pengurusannya. Tetaplah kita bersabar untuk menghadapinya dan harus bisa menyelesaikan masalah hukum dan pemerintahan tersebut agar tidak bermasalah dimasa depan.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)